Hari ini, saya benar-benar merasa feeling guilty terhadap seseorang karena secara tidak langsung menjadi salah satu oknum dengan terlibat menandatangani sebuah petisi protes yang mengakibatkan seseorang di kantor saya kehilangan mata pencarian, padahal orang tersebut usianya sudah tidak muda lagi dan jelas, sebagai kepala keluarga mempunyai kewajiban menafkahi keluarganya. Dan mendadak, tiba-tiba pagi ini saya merasa jadi orang paling jahat sedunia ya. Ya Allah... jahat sekali saya ini?
Tepat pukul 7.30 pagi ini, di tengah keseriusan saya mengedit tumpukan artikel, tiba-tiba office boy di kantor saya menghampiri ke ruangan saya dan memberikan tangan kanannya untuk saya jabat sambil tersenyum lirih kepada saya. Dengan tatapan heran, saya pun membuka head-set di telinga saya sambil bertanya ada apa.
"Saya mau mau minta maaf sama mbak Imel kalau selama ini saya punya salah dan bikin mbak Imel nggak puas sama kerjaan saya. Sekalian saya juga mau pamit," ucapnya dengan senyum (yang saya tahu) dipaksakan.
Saat beliau bicara itu, pikiran saya langsung berlari ke sebuah surat petisi yang beberapa minggu lalu menghampiri saya. Ya Allah... jangan-jangan gara-gara itu ya? Duuuuh, tiba-tiba saja perut saya langsung mules karena sama sekali tidak menyangka kalau akibat dari surat itu office boy saya jadi berhenti dari pekerjaannya. Saya ingat betul, ketika surat itu datang dibawa oleh salah satu staf keuangan saya, saya dengan detail meminta penjelasan kenapa surat itu harus keluar, apakah separah itukah pekerjaan beliau sampai harus diberikan surat semacam ini? Apa nggak bisa diajak ngobrol heart-to-heart dulu dengan orang yang bersangkutan? Dan seperti dugaan saya, jawaban orang tersebut adalah 'tidak'.
Jujur, saat itu tangan saya beraaaaaaaat sekali untuk memegang pulpen yang disodorkan orang tersebut untuk segera menandatangi surat petisi tersebut. Tapi entah kenapa, kok saya merasa sama sekali nggak berdaya ya? Ada kengerian di hati saya apabila saya benar-benar menolak petisi tersebut, mengingat betapa kejamnya bibir-bibir beberapa orang di kantor saya. Secara saya pernah menjadi korban kekejaman tersebut, dengan semangat solidaritas (yang saya nggak tahu berdasarkan atas apa) akhirnya saya pun membubuhkan paraf saya di atas nama saya, dengan catatan: Saya nggak mau keputusan ini jadi keputusan sepihak. Saya mau office boy tersebut diajak ngobrol dulu dengan harapan dia mau berubah. Dan saat itu, saya mendapat jaminan dari orang tersebut kalau sebelum petisi ini sampai ke orang yang bersangkutan, office boy tersebut akan diajak ngobrol. Oh oke, pikir saya. Kalau begitu, no problem. Dan saya pun membubuhkan tanda tangan saya.
Saya pikir semuanya sudah berjalan sesuai pikiran saya. Mengingat dalam waktu seminggu ini office boy saya datang lumayan pagi, 30 menit setelah kedatangan saya pukul 7.00. saya berpikir, Oh mungkin semuanya sudah diobrolin, makanya ada perubahan ini. Alhamdulillah, batin saya.
Tapi kenyataannya TIDAK SEPERTI ITU! Buktinya pagi ini, office boy saya pamitan sama saya. Huaaaaaaa.... kenapa bisa begini jadinya? Dengan suara yang dikuatkan saya mendengar cerita yang sebenarnya bahwa tidak ada obrolan heart-to-heart (seperti yang direncanakan) antara office boy saya itu dengan pihak berwenang dari kantor. Tiba-tiba beliau dipanggil oleh atasan dan langsung diperlihatkan surat petisi yang berisi tanda tangan kami semua dengan beberapa alasan yang (pastinya) memberatkan beliau dengan laporan raport merah hasil kerjanya. Waduuuh..... [!] Jujur, saya sediiiiiiiiiih bukan main mendengar ceritanya. Tiba-tiba muncul pertanyaan [bodoh] dari mulut saya mengenai rencana beliau selanjutnya gimana. 'Mau kerja di mana, Mas?' Dengan tawa yang berat beliau cuma menjawab 'Ya belum tahu deh Mbak...' Ya Allah.... *sigh*
Saya speechless. Sangat speechless. Ya Allah, saya jadi sangat merasa bersalah sekali. Saya benar-benar merasa berdosa sekali.
*Duh, maafin saya, Ya Allah... Maafin saya ya, Mas...
Start a journal! Putting all your thoughts and feelings down on a paper is very cleansing for the heart. And later, you'll have it to look back on reflect and most importantly, learn your experience.
Thursday, December 21, 2006
Saturday, December 09, 2006
Why GOD Made Friends?
God made the world with a heartful of love
Teman dan sahabat memang sukar dibedakan. Tapi ada hal-hal tertentu yang bisa dijadikan tanda apakah dia itu adalah seorang sahabat atau cuma sekadar teman biasa saja.
Teman Lebih Banyak
Jumlah teman tentu saja jauh lebih banyak dari yang namanya sahabat. Ini bukan berarti sahabat nggak boleh lebih dari satu, tapi justru karena jumlahnya sedikit, sahabat biasanya lebih istimewa daripada teman biasa.
Ingin Saling Membagi
Alasan berteman bisa banyak dan macam modelnya. Termasuk perhitungan karena dia ngetop, kece, tajir, atau karena dia pintar sehingga bisa membuat kita bangga berteman sama dia. Dan alasan kita berteman dengan seseorang itu bisa karena hal-hal tersebut, tapi jelas itu bukan jadi yang utama saat kita bersahabat dengan seseorang.
Dengan sahabat biasanya kita merasa sejajar, saling membutuhkan dan kompak dalam suka dan duka. Nggak pernah ada perasaan ingin memanfaatkan secara sepihak, yang ada justru lebih banyak perasaan saling ingin berbagi.
Lebih Terbuka
Teman yang baik memang yang nggak segan-segan mengkritik kita kalau perlu. Tapi sahabat yang baik bisa tahu cara mengkritik yang tepat sehingga kita seperti nggak merasa dikritik lagi olehnya. Nggak heran, dengan sahabat kita jadi lebih terbuka dalam bercerita apapun, termasuk mengakui kesalahan-kesalahan yang dibuat. Beda dengan teman. Kepada teman seringnya kita masih suka berhati-hati karena ada perasaan takut dengan kritik tajamnya.
Bukan cuma soal kritik saja, dengan sahabat biasanya kita lebih terbuka karena biasanya kadar kepercayaan yang kita punya untuknya porsinya lebih besar. Sahabat juga lebih sering membela dan membenarkan apa-apa yang kita lakukan. Begitu juga kita dengannya. Selain itu, kita juga percaya dia lebih bisa menjaga rahasia dan kita (walaupun kadang masih suka ngerumpi) juga selalu berusaha menyimpan rahasianya.
Bisa Ikut Sedih
Memberi jalan keluar kepada teman yang lagi sedih atau punya masalah sering dan biasa kita lakukan. Tapi anehnya, dengan sahabat rasanya bisa beda. Ketika sahabat bercerita tentang kesedihannya kadang kita malah bisa terbawa sedih. Kalau dia kesal dengan seseorang, entah kenapa kita juga sering ikutan sebal. Begitu juga pada saat dia lagi happy berat, rasanya kita juga yang mendapat kegembiraan itu. Ini juga yang membedakan sahabat dengan teman.
Ada Waktu Kita Butuh
Pada saat mengalami sesuatu yang membuat kita hati kita sedih atau gelisah, kita biasanya tahu dari sekian banyak teman kepada siapa kita harus bercerita. Itu biasanya karena pengalaman, sahabat selalu ada pada saat kita butuh. Dia mau mendengarkan pada saat kita ingin cerita. Dia juga bisa kasih kita saran atau jalan keluar, meski saran atau jawaban yang dia kasih belum tentu jitu-jitu juga, sih. [hehehe]
Selama 30 tahun umur saya, saya merasa sangat bersyukur karena hidup dikelilingi dengan sahabat-sahabat saya yang selalu setia, mau berbagi di kala suka dan duka, yang selalu ada di saat saya butuhkan, yang selalu siap sedia membantu, dan yang bisa saya percaya seumur hidup saya.
Perkenalkan, inilah sahabat-sahabat saya!


:: firdy :: :: geng bamboo ::


:: vita :: :: uni flo & ucay ::


:: dinna :: :: davy ::


:: dream team gosip :: :: wendy ::


:: icha :: :: novi ::


:: jawa :: :: daly ::


:: heni-attu-firdy :: :: cipto-tonny-koko-arief ::


:: vena :: :: dhani ::


:: iie & miya :: :: tante eno & sheila schulze ::



:: ilma :: :: sari :: :: susie ::


:: ichs :: :: melica ::


:: joseph family :: :: gadis all ::


:: marty :: ::evy ::


:: ijal :: :: ali ::


:: mamato :: :: cody ::


:: uthie :: :: andy (alm) & arief ::


:: riesta :: :: sisi ::


:: deddy :: :: abe ::
Then He looked down from heaven above
and saw that we all need a helping hand
Someone to share with who'll understanding
He made special people to see us through
the glad times and the sad times, too
A person on whom we can always depend
Someone we can call a friend
God made friends So we'll carry a part of His perfect love in all our heart.
and saw that we all need a helping hand
Someone to share with who'll understanding
He made special people to see us through
the glad times and the sad times, too
A person on whom we can always depend
Someone we can call a friend
God made friends So we'll carry a part of His perfect love in all our heart.
Teman dan sahabat memang sukar dibedakan. Tapi ada hal-hal tertentu yang bisa dijadikan tanda apakah dia itu adalah seorang sahabat atau cuma sekadar teman biasa saja.
Teman Lebih Banyak
Jumlah teman tentu saja jauh lebih banyak dari yang namanya sahabat. Ini bukan berarti sahabat nggak boleh lebih dari satu, tapi justru karena jumlahnya sedikit, sahabat biasanya lebih istimewa daripada teman biasa.
Ingin Saling Membagi
Alasan berteman bisa banyak dan macam modelnya. Termasuk perhitungan karena dia ngetop, kece, tajir, atau karena dia pintar sehingga bisa membuat kita bangga berteman sama dia. Dan alasan kita berteman dengan seseorang itu bisa karena hal-hal tersebut, tapi jelas itu bukan jadi yang utama saat kita bersahabat dengan seseorang.
Dengan sahabat biasanya kita merasa sejajar, saling membutuhkan dan kompak dalam suka dan duka. Nggak pernah ada perasaan ingin memanfaatkan secara sepihak, yang ada justru lebih banyak perasaan saling ingin berbagi.
Lebih Terbuka
Teman yang baik memang yang nggak segan-segan mengkritik kita kalau perlu. Tapi sahabat yang baik bisa tahu cara mengkritik yang tepat sehingga kita seperti nggak merasa dikritik lagi olehnya. Nggak heran, dengan sahabat kita jadi lebih terbuka dalam bercerita apapun, termasuk mengakui kesalahan-kesalahan yang dibuat. Beda dengan teman. Kepada teman seringnya kita masih suka berhati-hati karena ada perasaan takut dengan kritik tajamnya.
Bukan cuma soal kritik saja, dengan sahabat biasanya kita lebih terbuka karena biasanya kadar kepercayaan yang kita punya untuknya porsinya lebih besar. Sahabat juga lebih sering membela dan membenarkan apa-apa yang kita lakukan. Begitu juga kita dengannya. Selain itu, kita juga percaya dia lebih bisa menjaga rahasia dan kita (walaupun kadang masih suka ngerumpi) juga selalu berusaha menyimpan rahasianya.
Bisa Ikut Sedih
Memberi jalan keluar kepada teman yang lagi sedih atau punya masalah sering dan biasa kita lakukan. Tapi anehnya, dengan sahabat rasanya bisa beda. Ketika sahabat bercerita tentang kesedihannya kadang kita malah bisa terbawa sedih. Kalau dia kesal dengan seseorang, entah kenapa kita juga sering ikutan sebal. Begitu juga pada saat dia lagi happy berat, rasanya kita juga yang mendapat kegembiraan itu. Ini juga yang membedakan sahabat dengan teman.
Ada Waktu Kita Butuh
Pada saat mengalami sesuatu yang membuat kita hati kita sedih atau gelisah, kita biasanya tahu dari sekian banyak teman kepada siapa kita harus bercerita. Itu biasanya karena pengalaman, sahabat selalu ada pada saat kita butuh. Dia mau mendengarkan pada saat kita ingin cerita. Dia juga bisa kasih kita saran atau jalan keluar, meski saran atau jawaban yang dia kasih belum tentu jitu-jitu juga, sih. [hehehe]
Selama 30 tahun umur saya, saya merasa sangat bersyukur karena hidup dikelilingi dengan sahabat-sahabat saya yang selalu setia, mau berbagi di kala suka dan duka, yang selalu ada di saat saya butuhkan, yang selalu siap sedia membantu, dan yang bisa saya percaya seumur hidup saya.
Perkenalkan, inilah sahabat-sahabat saya!
:: firdy :: :: geng bamboo ::


:: vita :: :: uni flo & ucay ::


:: dinna :: :: davy ::


:: dream team gosip :: :: wendy ::

:: icha :: :: novi ::


:: jawa :: :: daly ::


:: heni-attu-firdy :: :: cipto-tonny-koko-arief ::


:: vena :: :: dhani ::


:: iie & miya :: :: tante eno & sheila schulze ::


:: ilma :: :: sari :: :: susie ::


:: ichs :: :: melica ::

:: joseph family :: :: gadis all ::


:: marty :: ::evy ::


:: ijal :: :: ali ::


:: mamato :: :: cody ::


:: uthie :: :: andy (alm) & arief ::


:: riesta :: :: sisi ::


:: deddy :: :: abe ::
Thursday, December 07, 2006
Rindu Aku
Rindu aku dengan tombol pejalan kaki di pinggir jalan rasuna itu.
Rindu aku dengan jalur penyeberang jalan di Jalan Rasuna di pagi hari pukul 7.
Rindu aku dengan trotoar tepi jalan antara Wisma Kodel - Gedung Tira.
Rindu aku dengan sapaan ramah satpan berseragam biru Gedung Tira, dengan parkiran luasnya yang teduh dan nyaman plus Bank Mandiri yang selalu menyambut gembira kedatanganku di tiap akhir bulan.
Rindu aku dengan tembok 'Berlin' yang membatasi Gedung Tira dan Mensa yang bikin kita bersyukur karena nggak mesti jalan jauh lagi menuju kantor.
Rindu aku dengan jendela kaca gedung Mensa 1 tempat kami biasa rapat kapling sambil menatapi pria-pria tampan beristri yang selalu tebar-tebar pesona sama cewek-cewek Gedung Femina pas bubaran Jumatan.
Rindu aku dengan sambutan muka jutek dan sok cool plus kumis tebal bapak-bapak satpam Gedung femina di pagi, siang, sore dan malam hari.
Rindu aku dengan sambutan Pak Wasit yang selalu menyempatkan teriak 'Perasaan semalam baru ketemu deh, Mel' di tengah kesibukannya menyiram tanaman di depan gerbang gedung.
Rindu aku dengan pintu otomatis gedung itu yang suka sok cuek nggak mau bukain pintunya dengan kedatangan kami (mungkin saking tuanya jadi sensornya udah nggak mudeng lagi).
Rindu aku dengan pengharum ruangan dan lantai gedung itu di pagi hari.
Rindu aku dengan tombol absen yang selalu menolak sidik jari jempol saya.
Rindu aku dengan lift tua yang selalu membuat kami cemas (apakah akan sampai di lantai 4
dengan selamat atau stuck di dalam lift) plus dengan aroma apek fan dan karpetnya.
Rindu aku dengan Downstair Cafe dengan menu ajaib yang selalu bikin kita kabur lari ke Begor Tohjoyo atau Sop Buntut Bu Samino.
Rindu aku dengan musholla sempit yang selalu rame menjelang detik-detik abis waktu sholat.
Rindu aku dengan tiang-tiang di lantai 4 yang penuh dengan poster-poster brondong cakep yang bikin mata yang ngantuk jadi segar lagi.
Rindu aku dengan meja, kursi, komputer saya dulu, dan segala pernak-pernik yang ada di atas meja saya yang super-duper penuh (meskipun sekarang sudah diisi orang lain lagi).
Rindu aku dengan tivi tua di samping meja saya yang selalu mengibur dengan tayangan MTV, V Channel & Infotainment-nya yang bikin saya selalu berebutan channel sama Frankenstein.
Rindu aku dengan papan putih besar tempat kami biasa menempel poster-poster cowok ganteng buat ditatapi di kala penat.
Rindu aku dengan bubur ayam depan kantor, mie rebusnya Star-Nang, siomaynya Udin, bakwan malangnya si Abang, teh botolnya Edi (meskipun saya tahu rasa teh botol di mana-mana sama aja), soto ayam tenda biru, pecel depan mesjid, mie ayam, bakso di depan gang meskipun rasanya maksa banget yang selalu muncul di saat tea-time kita, mie rebus di depan warung Edi di saat lembur malam, jus stroberinya si Mbak, Begor Tohjoyo, sop buntut Bu Samino, Nasi Padang Taraso yang harganya aje gile mahal, ifumi Berdikari yang selalu bikin badan kita ikutan berkuah pas makannya, Burger Blenger, bakmi Bangka dan rujak dan pepaya manis di pengkolan Setiabudi.
Rindu aku dengan suasana hingar bingar di pulauku...
Dengan gemuknya badan Om Dads yang bikin bangku saya selalu mentok di punggung besarnya,
Dengan cake-cake Dapur Coklat nikmat yang suka dibawa mbak Idar yang bikin badan kita semua makin melar,
Dengan panggilan cempreng "imelleeeeee"-nya Cody,
Tatapan putus asanya Uthie sambil bilang 'ooooh so sweaaaat!" saat ngeliat kegaringan kita, Pertanyaan aneh Aldy "Mbak Imel film Kuntilanak bagus nggak?" dengan tatapan yakin kalau saya pasti suka nonton film horor,
Ketawa ngakaknya Sentul plus kawat-kawat giginya,
Senyum ramah Neng Putri,
Obrolan seputar makanan enak dan cowok-cowok menawan hati bareng Jeje
Teriakan "waaaaa....Matt damon kita ganteng skali ya Melllll..."-nya Revi,
Bulu mata lentiknya Mamato yang selalu berkedip saat menggoda saya sambil bilang "Hi Imelleeee....",
Panggilan sayang Mbak Ida & mbakyu Dita yang selalu bikin hati saya damai,
Muka penasarannya mbak Didin yang keluar dari biliknya di pojokan ruangan gara-gara denger teriakan heboh kita semua,
Senyum puas & bahagia bak survivor-nya mbak Eny yang siap meletakkan bon kuning yang siap kita cairkan di lantai 2,
Gaya bicara tegesnya mamie Wis yang bilang kalau kita cuma dapat voucher taxi lembur aja, Tatapan icy-looknya Mudhi yang lagi stress ngedit tulisan anak-anak,
Ketawa ngakaknya Leelee,
Grecokannya Dian Rahmi tentang gosip-gosip artis Korea buat bahan Mizzgos,
Suara hak sepatunya Icha pas lagi lewat di samping meja menuju toilet,
Becanda garingnya Ega yang bikin kita selalu berkomentar "Duh, please deh Ga....",
Gosip-gosip bulbrant-nya Mbakyu Iya' dengan bahasa Jawanya yang cuma bisa dimengerti Ega doang,
Gaya slebornya Lilin si 'yayang etal' dengan rok orange favoritnya itu,
Senyuman penuh artinya Hera,
Mata sembabnya Tika,
Berantem-berantemannya Mea & Melica,
Komentar putus asanya Menina kalau lagi mengomentari film-film Indo yang nggak bermutu,
Ketawa ngikiknya Mbak Echi kalau lagi cerita-cerita jorok dengan tatapan mata belo'nya,
Gaya pose ganjennya jeung Novi kalau lagi berdiri di depan kita semua,
Pipi gembilnya Melica yang selalu jadi sasaran kecupan sayang bibirku,
Muka nyurengnya dhanty pas lagi ngetik artikel,
Senyuman ramahnya Riri yang selalu ceria tanpa beban meskipun sejuta deadline menumpuk di depan mata,
Ceplas-ceplosnya Uliel kalau lagi mengontari sesuatu,
Pelukan hangat Aniesy yang selalu bilang "Mbak Imel aku kangeeeeen...",
Curhatannya Ciya-chan soal Lee Hom kekasihnya dengan gaya baby-talknya,
Tarian-tarian lincahnya Margie,
Gelungan plus make up tebalnya Nit-Nit,
Muka polosnya Adhe dengan gaya sundanya,
Gaya Manado plus ajakan pulang barengnya Glence,
Kesabaran Nana ngadepin kebawelan tim Redaksi yang minta disambungin telepon,
Rayuan mautnya mbak Nur biar kita pada beli jus jualannya,
Tatapan lempeng dan cool-nya mas Tarno pas lagi ngepelin lantai di pagi hari,
dan cengiran simpulnya Mas Weni sambil naro mug kita di meja-meja kita.
Duh, saya selalu rindu setiap sudut yang ada ada di sana... Rinduuuuuuuuu sekali (!)
Rindu aku dengan jalur penyeberang jalan di Jalan Rasuna di pagi hari pukul 7.
Rindu aku dengan trotoar tepi jalan antara Wisma Kodel - Gedung Tira.
Rindu aku dengan sapaan ramah satpan berseragam biru Gedung Tira, dengan parkiran luasnya yang teduh dan nyaman plus Bank Mandiri yang selalu menyambut gembira kedatanganku di tiap akhir bulan.
Rindu aku dengan tembok 'Berlin' yang membatasi Gedung Tira dan Mensa yang bikin kita bersyukur karena nggak mesti jalan jauh lagi menuju kantor.
Rindu aku dengan jendela kaca gedung Mensa 1 tempat kami biasa rapat kapling sambil menatapi pria-pria tampan beristri yang selalu tebar-tebar pesona sama cewek-cewek Gedung Femina pas bubaran Jumatan.
Rindu aku dengan sambutan muka jutek dan sok cool plus kumis tebal bapak-bapak satpam Gedung femina di pagi, siang, sore dan malam hari.
Rindu aku dengan sambutan Pak Wasit yang selalu menyempatkan teriak 'Perasaan semalam baru ketemu deh, Mel' di tengah kesibukannya menyiram tanaman di depan gerbang gedung.
Rindu aku dengan pintu otomatis gedung itu yang suka sok cuek nggak mau bukain pintunya dengan kedatangan kami (mungkin saking tuanya jadi sensornya udah nggak mudeng lagi).
Rindu aku dengan pengharum ruangan dan lantai gedung itu di pagi hari.
Rindu aku dengan tombol absen yang selalu menolak sidik jari jempol saya.
Rindu aku dengan lift tua yang selalu membuat kami cemas (apakah akan sampai di lantai 4
dengan selamat atau stuck di dalam lift) plus dengan aroma apek fan dan karpetnya.
Rindu aku dengan Downstair Cafe dengan menu ajaib yang selalu bikin kita kabur lari ke Begor Tohjoyo atau Sop Buntut Bu Samino.
Rindu aku dengan musholla sempit yang selalu rame menjelang detik-detik abis waktu sholat.
Rindu aku dengan tiang-tiang di lantai 4 yang penuh dengan poster-poster brondong cakep yang bikin mata yang ngantuk jadi segar lagi.
Rindu aku dengan meja, kursi, komputer saya dulu, dan segala pernak-pernik yang ada di atas meja saya yang super-duper penuh (meskipun sekarang sudah diisi orang lain lagi).
Rindu aku dengan tivi tua di samping meja saya yang selalu mengibur dengan tayangan MTV, V Channel & Infotainment-nya yang bikin saya selalu berebutan channel sama Frankenstein.
Rindu aku dengan papan putih besar tempat kami biasa menempel poster-poster cowok ganteng buat ditatapi di kala penat.
Rindu aku dengan bubur ayam depan kantor, mie rebusnya Star-Nang, siomaynya Udin, bakwan malangnya si Abang, teh botolnya Edi (meskipun saya tahu rasa teh botol di mana-mana sama aja), soto ayam tenda biru, pecel depan mesjid, mie ayam, bakso di depan gang meskipun rasanya maksa banget yang selalu muncul di saat tea-time kita, mie rebus di depan warung Edi di saat lembur malam, jus stroberinya si Mbak, Begor Tohjoyo, sop buntut Bu Samino, Nasi Padang Taraso yang harganya aje gile mahal, ifumi Berdikari yang selalu bikin badan kita ikutan berkuah pas makannya, Burger Blenger, bakmi Bangka dan rujak dan pepaya manis di pengkolan Setiabudi.
Rindu aku dengan suasana hingar bingar di pulauku...
Dengan gemuknya badan Om Dads yang bikin bangku saya selalu mentok di punggung besarnya,
Dengan cake-cake Dapur Coklat nikmat yang suka dibawa mbak Idar yang bikin badan kita semua makin melar,
Dengan panggilan cempreng "imelleeeeee"-nya Cody,
Tatapan putus asanya Uthie sambil bilang 'ooooh so sweaaaat!" saat ngeliat kegaringan kita, Pertanyaan aneh Aldy "Mbak Imel film Kuntilanak bagus nggak?" dengan tatapan yakin kalau saya pasti suka nonton film horor,
Ketawa ngakaknya Sentul plus kawat-kawat giginya,
Senyum ramah Neng Putri,
Obrolan seputar makanan enak dan cowok-cowok menawan hati bareng Jeje
Teriakan "waaaaa....Matt damon kita ganteng skali ya Melllll..."-nya Revi,
Bulu mata lentiknya Mamato yang selalu berkedip saat menggoda saya sambil bilang "Hi Imelleeee....",
Panggilan sayang Mbak Ida & mbakyu Dita yang selalu bikin hati saya damai,
Muka penasarannya mbak Didin yang keluar dari biliknya di pojokan ruangan gara-gara denger teriakan heboh kita semua,
Senyum puas & bahagia bak survivor-nya mbak Eny yang siap meletakkan bon kuning yang siap kita cairkan di lantai 2,
Gaya bicara tegesnya mamie Wis yang bilang kalau kita cuma dapat voucher taxi lembur aja, Tatapan icy-looknya Mudhi yang lagi stress ngedit tulisan anak-anak,
Ketawa ngakaknya Leelee,
Grecokannya Dian Rahmi tentang gosip-gosip artis Korea buat bahan Mizzgos,
Suara hak sepatunya Icha pas lagi lewat di samping meja menuju toilet,
Becanda garingnya Ega yang bikin kita selalu berkomentar "Duh, please deh Ga....",
Gosip-gosip bulbrant-nya Mbakyu Iya' dengan bahasa Jawanya yang cuma bisa dimengerti Ega doang,
Gaya slebornya Lilin si 'yayang etal' dengan rok orange favoritnya itu,
Senyuman penuh artinya Hera,
Mata sembabnya Tika,
Berantem-berantemannya Mea & Melica,
Komentar putus asanya Menina kalau lagi mengomentari film-film Indo yang nggak bermutu,
Ketawa ngikiknya Mbak Echi kalau lagi cerita-cerita jorok dengan tatapan mata belo'nya,
Gaya pose ganjennya jeung Novi kalau lagi berdiri di depan kita semua,
Pipi gembilnya Melica yang selalu jadi sasaran kecupan sayang bibirku,
Muka nyurengnya dhanty pas lagi ngetik artikel,
Senyuman ramahnya Riri yang selalu ceria tanpa beban meskipun sejuta deadline menumpuk di depan mata,
Ceplas-ceplosnya Uliel kalau lagi mengontari sesuatu,
Pelukan hangat Aniesy yang selalu bilang "Mbak Imel aku kangeeeeen...",
Curhatannya Ciya-chan soal Lee Hom kekasihnya dengan gaya baby-talknya,
Tarian-tarian lincahnya Margie,
Gelungan plus make up tebalnya Nit-Nit,
Muka polosnya Adhe dengan gaya sundanya,
Gaya Manado plus ajakan pulang barengnya Glence,
Kesabaran Nana ngadepin kebawelan tim Redaksi yang minta disambungin telepon,
Rayuan mautnya mbak Nur biar kita pada beli jus jualannya,
Tatapan lempeng dan cool-nya mas Tarno pas lagi ngepelin lantai di pagi hari,
dan cengiran simpulnya Mas Weni sambil naro mug kita di meja-meja kita.
Duh, saya selalu rindu setiap sudut yang ada ada di sana... Rinduuuuuuuuu sekali (!)
Wednesday, December 06, 2006
*sigh
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiigh (!)
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
sigh... sigh... sigh... sigh... sigh... sigh...
siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiigh (!)
Monday, December 04, 2006
It's Your Turn Now!
God never takes a day off
To LOVE, to CARE & to GUIDE you
Every moment of your life
May this Blessing be with you
To day and forever
HAPPY BIRTHDAY ...
To LOVE, to CARE & to GUIDE you
Every moment of your life
May this Blessing be with you
To day and forever
HAPPY BIRTHDAY ...
Subscribe to:
Posts (Atom)